Kisah sebutir Telur Bebek
20 Tahun yang lalu di sebuah desa kecil di Jawa Timur, saya adalah seorang anak kecil yang terbiasa dengan kehidupan desa. Tidak ada Playstation, belum ada Mall, belum banyak narkoba, yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti saya adalah dolan di sawah, cari ikan di sungai, dan kalau pengen gagah-gagahan pergi ke sendang (danau kecil) di ujung desa lalu melompat dan salto langsung ke danau “Byur”. Jadi tidak ada sekat antara kaya dan miskin, nakal dan soleh, semuanya “dolan” bersama.
Hari itu Kami selesai mandi di sungai. Tidak ada jalan lain selain menunggu Truck Tebu di jalan raya, untuk sekedar mencabut satu dua batang sambil berjalan pulang. Belum kesampaian Truck datang tiba-tiba seorang teman melihat sesuatu di dasar Sungai sebelah jalan raya. Warnanya hijau muda mengkilap di terpa sinar matahari. Kami pun berlarian tanpa dikomando saling dorong, saling jegal, tidak ada tujuan lain kecuali mendapatkan benda tersebut. Setelah dekat tampak jelaslah sebutir telur bebek ada di hadapan Kami.
Ada teman saya Joko namanya. Badannya paling besar dan larinya paling cepat, ketika yang lain masih tarik-tarikan, jegal-jegalan, dia sudah tertawa terkekeh sambil memegang benda yang ternyata telur bebek itu. Melongolah Kami semua. Sempat Kami berpikir untuk apa Kami saling jegal-jegalan, tarik-tarikan, dan ternyata orang lain yang menuai hasilnya.
Setelah itu Kami termenung mau diapakan sebutir telur bebek mentah di jalan raya dekat sawah yang begitu luas. Setengah jam Kami berdebat, satunya minta dibuang saja biar adil, satu lagi ada ide, cari penggembala Bebeknya dan berikan telurnya, kemudian tercetuslah ide baru, mengapa kita tidak mencari udang atau ikan kecil kemudian digorang bersama telur dan dibawa ke rumah untuk dimakan bersama. Akhirnya kembalilah kami ke sawah, disitu ada kangkung yang siap panen di bawahnya biasanya banyak udang kali sebesar ibu jari. Dan Kami pun mencari udang dengan senang hati. Sebelum pulang tidak lupa saya minta seikat kangkung pada Si Empunya yang punya kangkung.
Sesampainya di rumah seorang teman Kami ditanak-kan nasi oleh Ibu teman saya ini. Kemudian telur bebek dan udang kita goreng dengan sedikit garam dan bawang. Kangkung ditumis dan jadilah makanan yang lezat.
Hmm dua puluh tahun kemudian saya mulai berfikir kalau hanya untuk membeli tumis kangkung, udang kali, dan sebutir telur sekarang ini dan saya makan sendiri InsyaAlloh saya sanggup. Tapi terasa ada yang hilang ketika saya makan sendiri, saya rindu jegal-jegalan, saya rindu balap lari, saya rindu cari udang, tanpa ada seorangpun yang tersakiti dan semuanya merasa bahagia.
April 18th, 2006 at 7:21 am
hmmmm,,,, yummy!!! but there are many children getting starved outside
November 17th, 2006 at 8:38 pm
mengharukan sekali mas… tapi kok diposting dua kali ya??
March 7th, 2008 at 6:22 pm
Asyik ceritanya, jadi inget masa kecil dulu… dilanjutin dong ceritanya… biar seperti tetraloginya Laskar Pelangi
Joko sekarang dimana, teman-temannya yang lain bagaimana…