Archive for April, 2006

“Ibu, I Miss You So Much”

Friday, April 28th, 2006

14/04/2006 17:38

"Ibu, I Miss You So Much"

Jamil Azzaini - Kubik Leadership

Jakarta, Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu". Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…" Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."

Keterangan Penulis:

Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Kisah sebutir Telur Bebek

Saturday, April 15th, 2006

20 Tahun yang lalu di sebuah desa kecil di Jawa Timur, saya adalah seorang anak kecil yang terbiasa dengan kehidupan desa. Tidak ada Playstation, belum ada Mall, belum banyak narkoba, yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti saya adalah dolan di sawah, cari ikan di sungai, dan kalau pengen gagah-gagahan pergi ke sendang (danau kecil) di ujung desa lalu melompat dan salto langsung ke danau “Byur”. Jadi tidak ada sekat antara kaya dan miskin, nakal dan soleh, semuanya “dolan” bersama.

            Hari itu Kami selesai mandi di sungai. Tidak ada jalan lain selain menunggu Truck Tebu di jalan raya, untuk sekedar mencabut satu dua batang sambil berjalan pulang. Belum kesampaian Truck datang tiba-tiba seorang teman melihat sesuatu di dasar Sungai sebelah jalan raya. Warnanya hijau muda mengkilap di terpa sinar matahari. Kami pun berlarian tanpa dikomando saling dorong, saling jegal, tidak ada tujuan lain kecuali mendapatkan benda tersebut. Setelah dekat tampak jelaslah sebutir telur bebek ada di hadapan Kami.

Ada teman saya Joko namanya. Badannya paling besar dan larinya paling cepat, ketika yang lain masih tarik-tarikan, jegal-jegalan, dia sudah tertawa terkekeh sambil memegang benda yang ternyata telur bebek itu. Melongolah Kami semua. Sempat Kami berpikir untuk apa Kami saling jegal-jegalan, tarik-tarikan, dan ternyata orang lain yang menuai hasilnya.

Setelah itu Kami termenung mau diapakan  sebutir telur bebek mentah di jalan raya dekat sawah yang begitu luas. Setengah jam Kami berdebat, satunya minta dibuang saja biar adil, satu lagi ada ide, cari penggembala Bebeknya dan berikan telurnya, kemudian tercetuslah ide baru, mengapa kita tidak mencari udang atau ikan kecil kemudian digorang bersama telur dan dibawa ke rumah untuk dimakan bersama. Akhirnya kembalilah kami ke sawah, disitu ada kangkung yang siap panen di bawahnya biasanya banyak udang kali sebesar ibu jari. Dan Kami pun mencari udang dengan senang hati. Sebelum pulang tidak lupa saya minta seikat kangkung pada Si Empunya yang punya kangkung.

Sesampainya di rumah seorang teman Kami ditanak-kan nasi oleh Ibu teman saya ini. Kemudian telur bebek dan udang kita goreng dengan sedikit garam dan bawang. Kangkung ditumis dan jadilah makanan yang lezat.

Hmm dua puluh tahun kemudian saya mulai berfikir kalau hanya untuk membeli tumis kangkung, udang kali, dan sebutir telur sekarang ini dan saya makan sendiri InsyaAlloh saya sanggup. Tapi terasa ada yang hilang ketika saya makan sendiri, saya rindu jegal-jegalan, saya rindu balap lari, saya rindu cari udang, tanpa ada seorangpun yang tersakiti dan semuanya merasa bahagia.

Kisah sebutir Telur Bebek

Saturday, April 15th, 2006

20 Tahun yang lalu di sebuah desa kecil di Jawa Timur, saya adalah seorang anak kecil yang terbiasa dengan kehidupan desa. Tidak ada Playstation, belum ada Mall, belum banyak narkoba, yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti saya adalah dolan di sawah, cari ikan di sungai, dan kalau pengen gagah-gagahan pergi ke sendang (danau kecil) di ujung desa lalu melompat dan salto langsung ke danau “Byur”. Jadi tidak ada sekat antara kaya dan miskin, nakal dan soleh, semuanya “dolan” bersama.

            Hari itu Kami selesai mandi di sungai. Tidak ada jalan lain selain menunggu Truck Tebu di jalan raya, untuk sekedar mencabut satu dua batang sambil berjalan pulang. Belum kesampaian Truck datang tiba-tiba seorang teman melihat sesuatu di dasar Sungai sebelah jalan raya. Warnanya hijau muda mengkilap di terpa sinar matahari. Kami pun berlarian tanpa dikomando saling dorong, saling jegal, tidak ada tujuan lain kecuali mendapatkan benda tersebut. Setelah dekat tampak jelaslah sebutir telur bebek ada di hadapan Kami.

Ada teman saya Joko namanya. Badannya paling besar dan larinya paling cepat, ketika yang lain masih tarik-tarikan, jegal-jegalan, dia sudah tertawa terkekeh sambil memegang benda yang ternyata telur bebek itu. Melongolah Kami semua. Sempat Kami berpikir untuk apa Kami saling jegal-jegalan, tarik-tarikan, dan ternyata orang lain yang menuai hasilnya.

Setelah itu Kami termenung mau diapakan  sebutir telur bebek mentah di jalan raya dekat sawah yang begitu luas. Setengah jam Kami berdebat, satunya minta dibuang saja biar adil, satu lagi ada ide, cari penggembala Bebeknya dan berikan telurnya, kemudian tercetuslah ide baru, mengapa kita tidak mencari udang atau ikan kecil kemudian digorang bersama telur dan dibawa ke rumah untuk dimakan bersama. Akhirnya kembalilah kami ke sawah, disitu ada kangkung yang siap panen di bawahnya biasanya banyak udang kali sebesar ibu jari. Dan Kami pun mencari udang dengan senang hati. Sebelum pulang tidak lupa saya minta seikat kangkung pada Si Empunya yang punya kangkung.

Sesampainya di rumah seorang teman Kami ditanak-kan nasi oleh Ibu teman saya ini. Kemudian telur bebek dan udang kita goreng dengan sedikit garam dan bawang. Kangkung ditumis dan jadilah makanan yang lezat.

Hmm dua puluh tahun kemudian saya mulai berfikir kalau hanya untuk membeli tumis kangkung, udang kali, dan sebutir telur sekarang ini dan saya makan sendiri InsyaAlloh saya sanggup. Tapi terasa ada yang hilang ketika saya makan sendiri, saya rindu jegal-jegalan, saya rindu balap lari, saya rindu cari udang, tanpa ada seorangpun yang tersakiti dan semuanya merasa bahagia.